Dua Presiden Indonesia Yang Terlupakan

Masyarakat Indonesia umumnya hanya mengenal 5 sebagai Presiden Republik Indonesia. Padahal, dalam sejarah Indonesia mencatat ada dua nama lain yang pernah menjabat sebagai presiden Indonesia, Syafriddin Prawiranegara dan Mr Assat. Kenapa dia di lupakan dan siapakah mereka?
Syafruddin Prawiranegara
Jauh Berbeda dengan presiden yang kita kehatui sebelumnya, tokoh satu ini tidak terlalu banyak diketahui warga Indonesia. Padahal, pengorbananya mendirikan Indonesia sebagai negara berdaulat dan tangguh sungguh sangat besar. Syafruddin adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah diberikan tugas oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk Pemerintahan Darurat RI (PDRI), Pada Saat itu, Belanda melakukan tindakan penyerangan di suatu wilayah pada tahun 1948. Tentara Belanda ingin mengebom Yogyakarta dan Bukit tinggi, mereka menangkap Soekarno Hatta. Ditangkap, kemudian diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka, 1948. Wakil Presiden mohammad Hatta yang telah memiliki firasat sebelumnya, jika Soekarno dan dirinya bakal ditangkap dan ditahan Belanda segera memberi mandat kepada pria kelahiran Serang, Banten, 28 Februari 1911 itu untuk melanjutkan pemerintahan, agar tak terjadi kekosongan kekuasaan. Tongkat estafet kepemimpinan kemudian diserahkan Bung Krno kepada Syafruddin lewat mandat yang tidak pernah diterimanya. Tapi demi mengetahui berita tersebut, Syafruddin yang berada di Bukit Tinggi berinisiatif mengambil alih kepemimpinan Negara Indonesia. Pada tanggal 19 Desember 1948, Syafruddin bersama Gubernur Sumatera pada waktu itu, TM Hasan, memutuskan untuk membentuk pemerintahan darurat. Inisiatif ini diambil demi menyelamatkan negara Indonesia, yang pada saat itu dalam kondisi yang sangat berbahaya. Atas usaha yang di lakukan Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa melakukan perunding dengan Indonesia. Delapan bulan berlalu yakni pada 13 Juli 1949, diadakannya sidang antara PDRI dengan Sukarno dan Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan pejuang bangsa dibebaskan dan kembali lagi ke Yogyakarta. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.
Mr Assaat
Selain Syafruddin Prawiranegara, tokoh yang pernah menduduki kursi sebagai Presiden Indonesia adalah Mr Assaat. Ia memimpin RI selama 9 bulan (27 Desember 1949-15 Agustus 1950). Setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949, Assaat diberikan amanat menjadi Pelaksana Tugas Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta hingga 15 Agustus 1950. Dengan dibentuknya RIS, jabatannya sebagai Pejabat Presiden RI pada Agustus 1950 selesai, demikian juga jabatannya selaku ketua KNIP dan Badan Pekerjanya, karena pada bulan Agustus 1950, negara-negara bagian RIS melebur diri dalam Negara Kesatuan RI. Saat menjadi Acting Presiden RI, Assaat menandatangan pendirian Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Setelah pindah ke Jakarta, pria kelahiran Sumatera Barat, 18 September 1904 itu dijadikan anggota parlemen (DPR-RI), hingga duduk dalam Kabinet Natsir menjadi Menteri Dalam Negeri September 1950 sampai Maret 1951. Setelah Kabinet Natsir telah bubar, ia kembali menjadi anggota Parlemen. Pada tahun 1955 ia menjabat sebagai formatur Kabinet bersama Soekiman Wirjosandjojo dan Wilopo untuk menjadikan Bung Hatta sebagai Perdana Menteri. Karena waktu itu terjadi ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan pemerintahan Pusat. Daerah-daerah mendukung Bung Hatta, tetapi upaya tiga formatur tersebut menemui kegagalan, karena secara formal, ditolak oleh Parlemen.

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

HABIS HUTAN TERBITLAH BANJIR : “BONUS TAMBAHAN UNTUK BUMI TAMBUN BUNGAI”

Naskah Pendek :Bumi Tambun Bungai adalah sebuah julukan yang melekat bagi Provinsi Kalimantan Tengah. Provinsi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *