Immawanku

 

DeKombat.com – Rabu, 1 September 2021 jam 5 sore di Kafe Basabasi Tamantirto. Akhirnya hari ini dateng juga. Hari paling mendebarkan sedunia bagi perempuan yang baru merasakan cerita asmara seperti diriku.

Hari penentuan apakah hubungan ini bakalan putus atau terus. Pada hari ini posisiku sudah berhadapan dengan dia di meja berpayung area belakang kafe.

Sebelumnya tiga hari yang lalu dia sudah membuat janji ketemu lewat telegram. Sosial medianya yang lain sudah aku block.

Dia kurang gentle banget menurut aku. Aku punya alesan kenapa bilang kurang gentle, dan kamu pasti setuju juga denganku.

Coba kamu pikir deh, seorang cowok yang biasa besuara lantang seperti dia, untuk  menyatakan putus atau terus saja harus pake cara yang simbolik.

Biar aku jelasin ke kamu. Jadi dia nggak berani ngomong putus atau terus secara langsung. Dia bilang, dia sudah pesankan sebuah minuman untuk aku. Minumannya bakalan dianter sama pelayan kafe jam 5 sore pas.

Kalo minuman yang dateng Teh Tarik itu artinya terus. Tapi kalo yang dateng Susu Jahe itu artinya putus. Di hubungan yang posisinya udah di ujung tanduk kaya gini, dia masih aja ngeselin.

Dari jauh aku melihat pelayan menuju meja kami. Terlihat dari jauh minuman yang diantar berwarna putih kecokelatan. Aku terus mengawasi gelas itu yang semakin mendekat.

Sebenernya aku suka banget susu jahe, tapi untuk kali ini aku berharap tidak ada sebongkah jahe pun di dalam gelas itu sama sekali.

Itu adalah bagian tersulit dari kisahku dengan dia. Sebelum aku lanjutkan kisahnya, biar aku ceritakan dulu bagaimana semuanya bermula.

Tentang semuanya dan tentang dia yang dengan sopan mengambil posisi tersendiri dalam hatiku. Dan tentang permasalahan aku dengan dia di organisasi yang berdampak ke hubungan kami.

Sebelumnya kenalin dulu nih ya. Namaku Renata Sinta. Panggilanku banyak banget. Ibuku biasa manggil aku Tata. Kalo dosen mata kuliah kewirausahaan biasa manggil aku Tata Boga. Dan si Budhe pemilik warung makan biru yang super ngantri itu biasa manggil aku Toto.

Kamu bebas mau manggil aku apapun. Asalkan kita bisa akrab, supaya aku lebih nyaman curhatnya. Tapi yang jelas tentu saja di IMM aku dipanggil Immawati Tata.

Aku dari Jakarta, tepatnya tinggal di perumahan daerah Kemang. Jenis kelamin perempuan, tidak berkumis, suka baca buku dan scrolling Instagram sambil ngemil Roti Gembong selai ovomaltine. Aku kuliah di UMY jurusan akuntansi angkatan 2019. Sekarang posisiku lagi di kost sebrang UMY. Lagi makan rujak buah.

Sebelumnya demi menghormati privasi dan untuk kebaikan bersama, identitas asli di kisah ini akan disamarkan ya, jadi nggapake identitas asli.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau disingkat IMM. Organisasi pertamaku. Aku mendaftar kesini sejujurnya karena tertarik dengan cara IMM mengenalkan diri di Masa Ta’aruf atau Ospek 2019 ketika itu. Terus aku kepoin sosial media Dekombat IMM FEB, googling tentang IMM, tertarik dan mendaftarlah aku.

Niatku dari awal adalah untuk belajar pada hal-hal baik yang aku temukan dari hasil kepo-kepoku tentang IMM. Selain itu tidak ada tujuan apapun.

Singkat cerita setelah melalui berbagai proses pendaftaran dan tahap seleksi, aku resmi menjadi kader komisariat IMM FEB UMY, ditandai dengan bertahannya aku selama 4 hari pada proses DAD.

Setelah resmi tergabung, demi komitmen dan tanggungjawabku aku banyak belajar, mengambil manfaat sembari mendalami organisasi ini. Dalam proses pendalaman itu dipertemukanlah aku dengan dia.

Pertemuan

Siang itu di hujan akhir bulan November kalo ngga salah, aku lupa hari apa dan tanggal berapa. Pokoknya yang jelas di hari itu sehabis kuliah, sambil nunggu kelas berikutnya, aku nongkrong di sekretariat IMM FEB. Itung-itung SKSD nyari temen dan berharap bisa kenal senior-senior di IMM supaya bisa berguru sama mereka.

Aku harus klaim kalo senior di IMM ini kayak welcome banget sama aku sebagai anggota baru. Baguslah pikirku, kesempatan buat nanya tentang banyak hal di kampus UMY.

Di tengah asiknya ngobrol sambil baca buku “GERPOLEK” karya Tan Malaka di sekretariat, datanglah dia.

Seorang pria dengan rambut acak adut, ngga tinggi tapi ngga pendek-pendek amat dengan pakaian yang kurang rapi.

Maaf bukan maksud menilai buruk, tapi aku hanya menjelaskan apa yang tampak saat itu. Lagian aku tidak akan menilai seseorang secara utuh dari yang tampak saja. Aku tetep respect, apalagi dia datang ke sekretariat, sudah pasti anggota IMM juga.

“Assalamualaikum” kata dia. Pandangan dia langsung menuju ke apa yang ada di tanganku.

Dia      : “Baca buku apa dek?”

Aku     : (dalam hati : “wah kayanya dia kating deh”) “Ini GERPOLEK kak hehe”

Dia      : “Ohh.. bagus tuh”

Aku     : “ Kakak udah baca juga?” (aku berusaha menyambung pembicaraan biar sopan)

Dia      : “Belom, tapi bagus sampulnya, warna kuning hehe”

Aku     : “Oalah, aku kira kakak udah baca hehe”

Dia      : “Ada yang lebih bagus daripada sampulnya tapi”

Aku     : “Apa tuh kak?”

Dia      : “Kamu yang sedang tenggelam dalam imajinasimu. Membuat sketsa dalam pikiranmu tentang nasib orang yang rugi karena kalah diplomasi seperti yang diceritakan di buku itu”

Aku : (dalam hati “wah dia ternyata udah baca” tapi aku ngga bisa jawab apa-apa)

Obrolan singkat itu terputus karena dia dapet telpon, sembari ngomong sama telponnya, bergegas pergi dan bilang “Aku ke sekber dulu ya, Assalamualaikum”

Wah, siapakah dia?. Belom sempet kenalan tadi!. Sebelumnya aku nggapernah liat dia di acara apapun.

Aku bukan seorang juri kontes duta wisata yang suka menilai orang. Tapi yang jelas bagiku dalam beberapa menit dia sudah memperkenalkan diri sebagai seseorang yang apresiatif.

Bisa menghargai benda sesederhana buku dari segala arah, seolah buku ini adalah makhluk hidup baginya.

“Namanya Galang”. Kata mba Rina yang dari tadi ngobrol sama aku di dalem sekretariat.

Kata mba Rina, kak Galang adalah anggota IMM kader tengah ketika itu.

Kader tengah maksudnya adalah anggota IMM yang sudah masuk tahun ke dua di organisasi. Dia angkatan 2018. Kuliah di jurusan yang sama kaya aku, jurusan akuntansi.

Mba Rina juga bilang kak Galang aktif di BEM. Sekber yang dia maksud pas pamit itu adalah sekretariat BEM.

Selain itu mba Rina bilang kak Galang itu orangnya pinter. Lantang kalo lagi diskusi. Tapi sedikit aneh orangnya. Entahlah aneh apa yang dia maksud.

Yaa abis itu udah sih. Aku ngga penasaran apa-apa lagi tentang dia secara pribadi. Cukup kenal aja. Kembali ke misiku yang utama, yaitu nyari banyak kenalan kakak tingkat hehe.

Cerita Ikatan di Burjo Teteh

Di Burjo Teteh, sore hari selepas kuliah. Aku harus jelasin, Burjo Teteh itu warung makan harga kelas mahasiswa di wilayah belakang kampus. Di tempat itu kak Galang tau namaku.

Aku ke Burjo Teteh buat makan bareng sama sahabatku Aira. Oh iya, sebelumnya aku mau kenalin dulu nih si Aira. Soalnya dia juga banyak terlibat di cerita ini kedepan. Ya sekalian untuk nunjukin juga ke kamu betapa kenalnya aku dengan Aira. Sebagai validasi juga bahwa aku bersahabat dengan dia. Supaya kamu percaya.

Namanya Cendikia Khumaira. Biasa dipanggil Ai atau Aira. Dia warga lokal. Bantul punya. Logatnya medok. Hampir ngga pernah telat sholat subuh. Cara berpakaiannya muslimah. Aku rasa dari apa yang aku deskripsiin kamu bisa mengenal dia orang seperti apa.

Balik lagi ke cerita. Aku mesen menu andalan di Burjo Teteh. “aa’ oseng ayam dua, es jeruk dua” kataku ke aa’ Burjo.

Selagi aku mesen, tugas Aira adalah cari tempat duduk.

Abis pesen makan mata aku langsung cari dimana Aira dapet tempat duduk. Dan seperti yang kuduga dia milih tempat deket kipas angin biar ngga panas. Okelah aku samperin aja dia.

Pandanganku geser sedikit dari tempat duduk yang Aira pilih.

Tepat disamping meja kami sudah duduk segerombolan mahasiswa yang lagi makan sambil bincang-bincang. Di antara para mahasiswa itu adalah kak Galang.

Duduklah aku bareng Aira. Karena kak Galang udah liat aku juga, dan aku orangnya sok akrab tanpa bermaksud ganjen, aku sapa aja lah.

“Halo kak Galang, makan sore kak?”. Untuk menunjukan aku udah tau namanya. “Eh haloo, iyaa nih, makan juga yaa” jawab kak Galang sambil bingung.

Entah bingung kenapa aku bisa tau namanya atau bingung mau manggil aku siapa karena aku rasa dia belum kenal aku ketika itu.

Percakapan aku dengan kak Galang hanya sekedar basa-basi gitu aja karena kita sama-sama sibuk sama aktifitas makan bareng temen masing-masing.

Setengah porsi oseng ayam sudah aku santap, tiba-tiba datanglah seorang pria duduk tanpa permisi di sampingku.

Pria yang tadi aku sapa. Galang Ramadhan. Setidaknya itu nama yang aku liat di seragam organisasi yang dia pakai.

Galang             : “Eh gabung yak, temen-temenku udah balik nih hehe”

Aku dan Aira  : “Silahkan kak”

Galang             : “Oiya nama kamu siapa dek?” (menatap ke arahku. Btw cara dia menatap itu tajem banget setajam mata elang hehe)

Aku                 : “Namaku Tata kak, kalo ini temenku Aira” (Aira cuma mengangguk sambil menlanjutkan makan)

Galang             : “Aku Galang”

Aku                 : “Udah tau nama kakak dari mba Rina hehe”

Galang             : “Oh si Rina yang ngasih tau kamu, kalo dia gosipin aku jangan didengerin yak”

Aku                 : “Engga kok kak hehe”

Nah kesempatan nih mumpung ada kak Galang yang katanya progresif. Aku kulik-kulik aja nih ilmunya hehe. Ya walaupun harus mengorbankan si Aira yang jadi patung nyimak.

Aku                 : “Kak aku mau nanya dikit boleh ngga?”

Galang             : “Nanya banyak aja”

Aku                 : “Wahh dermawan ilmu sekali ya kak”

Galang             : “InsyaAlloh hehe”

Aku                 : “Kak apasih yang harus aku lakukan di IMM? Biar bisa dapet manfaat terus ngasih manfaat juga, biar pinter, biar maksimal belajar lah intinya”

Galang             : “Menurut kamu IMM itu apa sih?” (dia malah jawab pake pertanyaan, nah permainan gini nih aku seneng ngasah otak hehe.)

Aku                 : “Maksudnya kepanjangannya kak? Tujuan organisasinya? Penegasannya?”

Galang             : “Bukan, itu mah kamu udah tau semua. Aku pengen tau gimana kamu mendefinisikan IMM, sebuah definisi pribadi yang orang lain belum pernah baca di kitab manapun”

Aku                 : “Hmm..menurut aku IMM itu sebuah harapan, tapi bukan ekspektasi bagiku kak”

Galang             : “Maksudnya?”

Aku                 : “Yaa, jadi for your information ini tuh organisasi pertama aku kak. Aku SMA apatis banget. Fokus ke diri sendiri. Cari ilmu untuk diri sendiri. Nggapunya gairah untuk tebar kebaikan ke sesama. Ngerasa nggapunya kecerdasan sosial. Yaa karena itu jadi berharap aja IMM ini bisa jadi lahan yang bisa aku tebar benih kebaikan, atau bisa aku panen manfaatnya kak”

Galang             : “Terus maksudmu “tapi bukan ekspektasi”?

Aku                 : “Yaa maksudnya meskipun aku berharap seperti demikian, aku tidak menaruh ekspektasi sama IMM. Sebab sakit hati tidak akan pernah ada jika tidak ada ekspektasi. Meskipun IMM nanti tidak sesuai harapanku, komitmen dan kesetiaan organisasi harus tetep ada kan kak”

Galang             : (senyum manis) “Kamu keren dek”

Aku                 : “Kalo menurut kakak IMM itu apa? Sebuah definisi pribadi yang orang lain belum pernah baca di kitab manapun ya kak hehe”

Galang             : “Selain ladang panen ilmu dan kendaraan menebar kebaikan seperti yang kamu definisikan tadi. Bagiku IMM itu tempat uji kualitas diri”

Aku                 : “Uji nyali gitu kak?”

Galang             : “Haha, bukann gitu. IMM itu organisasi yang kompleks. Pergerakan, Perkaderan, Penebaran nilai organisasi. Banyak yang diurus. Makanya menjalankan semua itu butuh kader yang istimewa. Dia kader istimewa itu adalah seorang penggagas dan penggerak kemajuan”

Aku                 : “Berarti jawaban kakak atas pertanyaanku di awal aku harus jadi pinter paham nilai, paham tujuan organisasi ya kak untuk bisa memimpin menuju kemajuan?”

Galang             : “Ngga cuma pinter menggagas, tapi juga butuh tim yang solid menggerakan. Celakalah sebuah tim jika diisi pemain bintang tapi ngga solid. Begitupun sebaliknya celakalah tim yang solid tapi diantaranya tidak ada satu pun yang jadi kapten tim atau otak permainan tim”

Aku                 : “Terus hubungannya sama uji kualitas diri yang kakak bilang?”

Galang             : “Bagiku orang yang berkualitas adalah orang yang punya komitmen tinggi. Bentuk komitmen ke IMM sendiri adalah totalitas menyelami apa yang dibutuhkan organisasi. IMM butuh orang yang pinter di bidang tertentu, penuhi. IMM butuh kamu tersedia di saat tertentu, penuhi. Ini bukan masalah mencintai berlebihan, ini bukan masalah menuhankan organisasi atau menjadi budak organisasi. Poinnya bukan pada mendewakan IMM nya. Tapi diri kita sebagai manusia yang berkualitas punya komitmen di semua hal, dalam mengejar cita-cita, dalam mengejar cinta termasuk dalam berorganisasi”

Aku                 : “Tapi kak, kalo misalnya aku udah sangat berkomitmen seperti yang kakak bilang. Tapi aku kan ngga bisa sendiri. Gimana kalo temen-temenku ngga bisa komitmen? Kita juga ngga bisa kontrol mereka untuk dipaksa berkomitmen. Komitmen itu  kesadaran pribadi kak”

Galang             : “Pukulan, cercaan, bencana, tamparan, dan kecelakaan dalam organisasi itu pasti ada. Tapi sayangnya organisasi adalah benda mati. Yang menghidupkan adalah kader-kadernya. Orang yang meninggalkan komitmen dengan dalih mengutuk atau menyalahkan kondisi organisasi, menyalahkan keadaan, menyalahkan anggotanya adalah orang yang mengutuk diri sendiri karena dia adalah organ tubuh sehat yang seharusnya menyelamatkan organ tubuh lain tapi malah justru tertular penyakit.

Aku                 : “Jadi?”

Galang             : “Komitmen adalah kesadaran diri jadi mulai lah dari kesadaran diri sendiri”

Setelah mengobrol lumayan lama dengan kak Galang. Aku sepakat sama bagaimana mba Rina mendefinisikan kak Galang. Cara pandangnya keren. Aku suka. Suka cara pandangnya ya bukan apa-apa. Kamu jangan salah paham dulu.

Bincang-bincang itu ditutup dengan kak Galang yang pamit balik duluan. Dia minta nomorku. Katanya punya puisi bagus. Mau minta pendapat ke aku.

Sebenernya nomorku ada satu grup WA IMM sama dia. Tapi mungkin ini caranya untuk minta izin chat ke aku.

Puisi Immawan Galang

Aku pikir setelah dia minta nomorku di Burjo Teteh, malemnya mau langsung chat. Tapi ditunggu seminggu tidak ada notifikasi chat WA dari dia. Kesel. Nggatau juga kesel kenapa. Duh apaansi kok jadi berekspektasi gini.

Seminggu nggada ketemu kak Galang. Malam hari pas lagi nggarap tugas Akuntansi Pengantar ada notifikasi WA masuk dari nomor yang belum dinamai.

Aku suka banget sama mata kuliah akuntansi. Tapi aneh kenapa aku kali ini gampang banget memalingkan hal yang sedang aku kerjakan.

Langsung aja aku buka dan sesuai harapan ini chat puisi dari kak Galang.

TATA

Tata..

Kenapa kamu ada dimana-mana

Di Gedung fakultas ada Tata Usaha

Di Masjid ada Tata Cara Berdo’a

Di Tukang Jahit ada Tata  Busana

Di SMK ada Tata Boga

Di Musyawarah ada Tata Tertib

Di Rumah orang ada Tata Krama

Di Langit ada Tata Surya

Oh aku salah Ternyata

Kamu bukan ada dimana-mana

Aku hanya tidak punya Tata Bahasa

Untuk mengungkap bahwa

Aku memikirkanmu dimanapun kamu berada

Galang, Bantul 2019

What!? Please. Untuk yang kedua kalinya aku sepakat dengan bagaimana mba Rina mendefinisikan kak Galang. Fix dia aneh. But sweet. Duh aku harus bales gimana?.

Di tengah aku memikirkan cara membalas puisi aneh kak Galang. Tiba-tiba masuk notifikasi lain. Ini dari sahabatku Aira.

Aira [02/12, 21:03] : Taa.. mas Galang temen kamu yang di Burjo Teteh itu ngajakin aku ketemu di Malioboro

Hah!!????? Kok bisaa??????

 

Bersambung.

 

Author : Muhammad Fatwa Alfian Mustofa

Editor : Tiara

 

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

Cerpen: AKU MENINGGALKAN NYA KARENA ALLAH

AKU MENINGGALKANYA KARNA ALLAH Oleh: Immawati Fara Daffa “Sakit itu bukan saat kita di jaukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published.