MAHASISWA DAN DILEMATIKA KEHIDUPAN VIRTUAL

Dekombat.com – Imbas pandemi corona menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, begitupun di dalam dunia pendidikan. Pandemi corona memaksa banyak institusi pendidikan di Indonesia khususnya, terpaksa meniadakan pembelajaran langsung dan menggantinya dengan metode pemberajaran virtual (daring). Meskipun belum ada penelitian resmi yang menyatakan seberapa besar efektivitas pembelajaran sistem daring ini dibandingkan dengan pembelajaran secara manual, namun melihat realitas saat ini banyak dari kaum pelajar dan mahasiswa yang mengeluhkan pembelajaran jarak jauh tersebut.

Berikut beberapa tanggapan mahasiswa FEB tentang apa yang mereka rasakan selama melaksanakan perkuliahan secara virtual dan cara mereka untuk tetap produktif  selama menjalankan aktivitas-aktivitas secara virtual.

Apriyady (Mahasiswa Ilmu Ekonomi 2019)

“Menurut saya untuk terkait bagaimana perasaan dan pandangan saya di semester ini atau selama beberapa masa ke depan apabila masih harus berjalan sebuah aktivitas perkuliahan ataupun kegiatan-kegiatan lainnya yang harus dijalankan dengan berbasis online ataupun virtual menurutku sebenarnya ini bukan sebuah kebiasaan baru karena wacana-wacana kegiatan yang harus berbasis online ini bukan wacana-wacana yang baru keluar 1 atau 2 bulan terakhir tapi ini sudah hampir berjalan 1 tahun semenjak covid sudah mulai merekah wujudnya, di mana efeknya yaitu pembatasan kegiatan yang biasanya dilaksanakan secara langsung kini beralih secara virtual. Maka tahap kita saat ini bukan lagi sekadar pembiasaan, tetapi sebenarnya kita sudah harus ada di titik telah beradaptasi atau sudah terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan kegiatan yang berbasis virtual. Saat ini saya menjalaninya dengan sebagaimana mungkin karena harus kita ulik juga bahwasanya ada pembeda dari kegiatan secara langsung dengan kegiatan secara virtual ini. Contohnya dalam hal akomodasi misalnya, kegiatan berbasis virtual sangat memudahkan karena kita tidak lagi terpaut harus pergi kemana, atau harus berangkat jam berapa supaya tepat waktu.”

Itulah yang menjadi tantangan sekarang yang mana secara psikologis dari beberapa artikel yang pernah aku baca bahwasanya karakter mahasiswa selama masa daring ini ada terjadi beberapa pergeseran dalam hal antusias belajar, dikarenakan mereka dipaksa untuk berada di rumah terus menerus, maka kegiatan-kegiatan yang biasanya mendorong mereka untuk melakukan kegiatan lebih awal, melakukan kegiatan lebih produktif, dan lain sebagainya itu berubah menjadi ruang lingkup yang sempit di pikiran mereka karena yang dulunya mereka terbebas kan ruang tadinya menjadikan mereka hanya ada di satu tempat, mereka hanya buka laptop atau gadget, mereka sudah bisa mengakses kegiatan tersebut dipermudah. Tetapi  ketermudahan tersebutlah yang menjadi tantangannya.

Untuk tetap menjaga produktivitas, maka harus ada sebuah pembiasaan, harus ada sebuah time manajemen yang baik yang benar antara satu kegiatan-kegiatan yang lain dan juga keteraturan pembagian seperti kegiatan yang akan dilakukan selama satu hari, karena kita akan dituntut dan terdesak dengan kondisi yang membosankan ketika hanya berada di satu ruangan atau tempat yang sama dan tidak bisa keluar karena basis kegiatannya virtual dan daya tangkapnya juga menjadi kurang. Ketika perkuliahan daring dilaksanakan, seberapa banyak mahasiswa yang benar-benar menyimak jalannya perkuliahan dengan duduk di depan laptop atau hp-nya, menyimak penjelasan dosen, kemudian mencatat lewat bukunya. Harus ada sebuah rasa kesadaran diri seseorang itu untuk menerobos batas keterbatasan dari kegiatan online. Maka yang pertama, harus ada kesadaran bahwa kegiatan apapun mau ikut daring atau tidak itu harus disadarkan bahwasanya ini ada kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya, yang menjadi tanggung jawab kita untuk menjalaninya dengan sepenuh hati, dengan sebenar-benarnya menjalaninya, dan juga ini menjadi sebuah ranah baru bagi dosen atau bagi mahasiswa yang sebelumnya tidak terbiasa dengan virtual maka rasa tanggung jawab untuk menekan atau untuk menumbuhkan dan mengembangkan rasa produktivitas atau daya produktif diri seseorang adalah dengan memanajemen waktu yang baik antara kegiatan satu dengan kegiatan yang lain. Seperti halnya yang disampaikan oleh Imam Syafi’i dalam pendapatnya “Bahwasanya, kita menuntut ilmu itu layaknya berburu, yang mana menulis adalah sebuah ranah untuk kita mengikat ilmu tersebut” di mana ilmu itu adalah hewan buruan yang kita ingin tangkap. Nah kita harus ada alat penekan atau aplikasinya yang mana menulis adalah alat perekam dan alat pengikat tersebut agar tetap bisa kita pahami dan tetap bisa kita implementasikan. Menulis itu juga bukan sekadar hanya sebagai tujuan pengimplementasian, tapi juga itu ada sebuah proses pengimplementasian kita.

Jadi, untuk menjaga produktivitas yang pertama itu kita perlu untuk memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang kita ikuti itu tadi. Apapun sistem yang berjalan, online atau tidak kita harus tetap mengikuti kegiatan tersebut dengan sepenuh hati dengan kita simak dan kita ikuti dengan sungguh-sungguh. Yang kedua adalah memanajemen waktu yang baik terhadap kegiatan satu dengan kegiatan yang lain dan juga  tanggung jawab kita disini terhadap manajemen waktu itu.

Yeliza Eka Darma (Mahasiswi Akuntansi 2019)

“Jika semester ini kuliahnya masih online dan kegiatan aktivitas lainnya masih virtual, jelas kalau saya merasa  kecewa dan sedih, karena kemarin Kemendikbud pernah menyampaikan bahwa Januari itu masuk kuliahnya sudah mulai seperti biasa (tatap muka) tetapi dengan mengikuti protokol kesehatan, juga dengan sudah mulai beredarnya vaksin sehingga peluang kuliah offline itu sudah cukup besar, karena mau sampai kapan gitu kegiatan kita dibatasi karena pandemi ini, makanya aku berharap semester ini kuliah dan kegiatan aktivitas lainnya itu bisa secara offline seperti biasanya.”

Tapi walaupun kecewa dan sedih, kita tidak boleh patah semangatnya, karena langka awal dalam menjaga produktivitas selama semua aktivitas dilakukan secara virtual ini, yaitu dengan tetap menjaga semangat dan membangun mindset saya bahwa waktu terus berlalu tanpa akan menunggumu, dan saya tidak mau menjadi tua tanpa dewasa, karena tua itu pasti dan dewasa itu pilihan kita pribadi. Banyak yang bisa dikerjakan walaupun tidak langsung tatap muka seperti sekarang, sebagai contoh sekarang banyak webinar yang bisa diikuti atau kegiatan-kegiatan lainnya. Sebenarnya virtual tidak menjadi halangan ketika seseorang tahu akan tujuannya, sebenarnya virtual atau tatap muka sama bermanfaatnya ketika seseorang itu tahu akan tujuan tersebut dan saya pribadi tahu apa yang akan dituju maka menggunakan metode virtual atau tatap muka tidak menjadi masalah walaupun juga ada sedikit kekecewaan karena kegiatan yang dilaksanakan secara virtual.

Meskipun sampai saat ini belum bisa dipastikan kapan perkuliahan secara offline akan dilaksanakan dan kegiatan pembelajaran masih tetap dilakukan secara online, akan tetapi memahami dan menjalankan tanggung jawab kita sebagai seorang mahasiswa untuk menerima transfer ilmu yang dilakukan oleh dosen dengan baik itu menjadi suatu hal yang harus kita jalankan. Perlu adanya kesadaran bahwasanya meskipun berada dalam dimensi virtual itu bukan berarti membatasi ruang gerak kita untuk tetap produktif menjalankan aktivitas perkuliahan dan kegiatan yang lainnya. Manajemen waktu yang tepat juga menjadi hal yang perlu diperhatikan ketika aktivitas-aktivitas secara virtual ini masih berlangsung, dengan memiliki manajemen waktu yang baik kita juga dapat menjalankan aktivitas secara lebih  teratur dan menyenangkan.

Jurnalis: Audy Nurfadhly

Editor: Nur Ngaeni

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

Dua Presiden Indonesia Yang Terlupakan

Masyarakat Indonesia umumnya hanya mengenal 5 sebagai Presiden Republik Indonesia. Padahal, dalam sejarah Indonesia mencatat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *