Masa Kini : Sumpah Pemuda atau Sampah Pemuda

Masa Kini : Sumpah Pemuda atau Sampah Pemuda

Oleh : Parlemen Jalanan Ft Bidang Hikmah 2018/2019

Bahwa Pemuda adalah panggung sejarah emas bagi zamannya, dialah yang mengontrol dan merubah, itulah pemuda.
-Benedict Anderson-

Sudah menjadi tradisi bahwa setiap tanggal 28 Oktober pemuda dan pemudi Indonesia merayakan hari jadinya, 90 tahun kita mengenang peristiwa yang terjadi 28 Oktober 1928 silam. Tradisi hanyalah tradisi, sebuah momen sesaat yang euforia nya hanya sekedar wah dan oh saja, seperti berpapasan dengan mantan, sekedar liat, tahu, dan tertawa atau sakit hati lantas oh panjang jika kabar si dia baik baik saja. Masih banyak pemuda dan pemudi yang bingung bagaimana cara merefleksi diri melalui sumpah pemuda ini, bahkan mayoritas mungkin belum tahu atau sempat hafal tapi lupa karena hanya berorientasi mengejar nilai mapel PPKN, kalau sudah begini mau gimana lagi.Melalui tulisan ini setidaknya kita bisa mengetahui sejarah, problema, dan pengaplikasian makna “Sumpah Pemuda” bagi diri kita. Mari mawas bersama.
Ada sebuah pepatah, “Hanya keledai yang selalu terantuk pada batu yang sama”. Orang orang terdahulu selalu mengoligarikan segala bentuk ketololan dan kebodohan dengan keledai, jika kita cermati kata pepatah di atas, orang yang diumpamakan deperti keledai adalah dia yang tidak belajar dari masa silam (sejarah). Berawal dari tahun 1908 dimana Boedi Oetomo berdiri adalah fase awal pembangunan kesadaran bahwa perjuangan tidak selamanya dilakukan dengan mengangkat senjata, hemat penulis kita sebut fase pembangunan kesadaran berorganisasi, setelah fase ini bermunculan organisasi organisasi dan puncaknya adalah 1910-1926 para pemuda dan pemudi bertemu pada kongres pemuda 1, 2 tahun kemudian diadakan kongres yang ke 2 pada tahun 1928, sumpah pemuda diikrarkan.
Jika pemuda dan pemudi dahulu memiliki sebuah karya yang monumental yang dikenang, lantas pemuda zaman sekarang mempunyai karya apa agar dikenal, mungkin ada banyak faktor kenapa pemuda hari ini tidak kunjung berkarya, menurut penulis pemuda hari ini adalah pemuda yang berada di persimpangan zaman, kita memasuki masa transisi metode, dimana kita masih terlalu terpaku pada metode pemuda zaman dahulu, sedangkan metode yang cocok untuk di terapkan pasa masa kini belum ada, faktornya karena kurang bijak dan minimnya pembekalan pemuda tentang edukasi internet guna berkarya itu sendiri. Internet menjadi suatu hal yang penting, bukan hanya untuk browsing saja, belum ada yang mengupas seluk beluk internet, seperti masih jarang sekolah yang intensif secara khusus mengajarkan koding dan cara membuat web untuk jualan.
Faktor selanjutnya yang harus dibenahi adalah metode transfer ilmu (pembelajaran). Kampus atau instansi pendidikan gagal dalam menjadi tempat untuk berkarya, selama kepintaran manusia masih diukur dengan huruf dan angka, itu malah akan memendam potensi dan bakat dari pemuda itu sendiri, beruntungnya anak anak TK yang berkarya walaupun hanya menggambar 2 gunung dan matahari. Kampus yang seharusnya menjadi tempat untuk mempurnakan ilmu para peserta didiknya masih jauh dari harapan, TRIDHARMA universitas (Pendidikan,Penelitian, dan Pengabdian) yang menjadi acuan universitas untuk bergerak belumlah seimbang, mereka terlalu menitik beratkan kepada pendidikan dengan teori berjubel tapi minim akan penelitian dan pengabdian, adapun pengabdian hanya di lakukan saat KKN saja sebagai formalitas kelulusan. Mahasiswa menjadi ketakutan akan masa depan, sehingga mereka sungkan untuk mencoba berkarya.
Hemat penulis, pemuda zaman ini harus bisa mendobrak sekat itu semua, Elon Musk pendiri Tesla tidak akan bisa menciptakan roket yang bisa kembali ke bumi setelah mengorbit tanpa kerusakan, sehingga bisa digunakan lagi tanpa harus menghancurkannya, karena biaya pembuatan roket mahal. Menjadi pemuda adalah masa untuk menghabiskan jatah gagal, jadi mari berkarya.

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

Dua Presiden Indonesia Yang Terlupakan

Masyarakat Indonesia umumnya hanya mengenal 5 sebagai Presiden Republik Indonesia. Padahal, dalam sejarah Indonesia mencatat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *