PUNCAK MILAD IMM KE-58

DeKombat.com – ‘Catatan Kritis : Perjalanan 58 Tahun IMM dan 19 Tahun IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta’

 

Bertepatan dengan tanggal 18 Maret 2022, IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta telah menyelenggarakan Puncak Refleksi Milad IMM ke-58 Tahun yang bertempat di Ruang Amphitheater Lantai 5 Gedung E6 KH Ibrahim, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Selaras dengan diangkatnya tema ‘Menguatkan Kemandirian’ oleh seluruh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, PC IMM AR Fakhruddin mengusung tema yang lebih spesifik dalam acara puncak ini, yaitu ‘Catatan Kritis : Perjalanan 58 Tahun IMM dan 19 Tahun IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta’

Sehubungan dengan hari jadi IMM, maka PC IMM AR Fakhruddin mengundang beberapa tokoh yang juga berkiprah dalam lingkup IMM, dimana mereka memberikan pemahaman dan pandangannya mengenai IMM dari histori pengalamannya untuk kemudian di kaji bersama. Beliau adalah Immawan Zain Maulana, S.IP., M.A., Ph.D sebagai Ketua Umum PC IMM AR Fakhruddin periode 2007/2008, Immawan M. Fajrus Shodiq, S.IP sebagai Sekretaris Bidang RPK DPP IMM, dan Immawan Muh Akmal Ahsan, S.Pd sebagai Ketua Umum DPD IMM DIY yang mana ketiganya juga masih aktif membersamai PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh Pimpinan Komisariat se- IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta, dan seluruh Pimpinan Cabang AR Fakhruddin Kota Yogyakarta.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Immawati Masita (Ketua Umum PC IMM AR Fakhruddin 2020/2021) memaparkan, bahwa dewasa ini masih banyak persoalan kehidupan yang menimpa di Yogyakarta bahkan ranah nasional. Lalu bagaimanakah peran IMM? Apakah sudah dirasakan dampaknya oleh masyarakat? Dan bagaimana dinamika, peran dan harapan untuk Pimpinan Komisariat atau Pimpinan Cabang IMM kedepannya?

IMM lahir dalam dinamika Indonesia yang tidak baik-baik saja. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berdiri di era Orde Lama yang kita tahu pada waktu itu betapa peliknya keadaan politik, yang mana Muhammadiyah terkena hembusnya pula. Muhammadiyah dituduh anti-Pancasila, pewaris  DI/TII,  dan juga menjadi target pembubaran oleh PKI, karena mereka ingin membungkam Muhammadiyah yang merupakan salah satu ormas Islam kritis. Kemudian Muhammadiyah berhajat untuk membentuk wadah dalam konteks masyarakat oleh Mahasiswa, sebagai basis progres pergerakan Muhammadiyah. Mahasiswa digadang-gadang untuk menjadi Agent Of Change, penyalur aspirasi dan penegak tonggak keadilan.

Masa yang dialami IMM Ar Fakhruddin dibagi menjadi 3. Yang pertama adalah masa pertumbuhan, dimana IMM tidak bisa lepas dari setting sosial historis. Reformasi sudah bergulir, namun tidak ada pergerakan ghirrah pada gerakan mahasiswa. Yang kedua yakni masa perkembangan, di masa ini sudah tercetus ide tentang creative minority. Ketiga adalah masa kematangan, yang ditandai dengan radius yang semakin meluas, dan ide tentang creative minority sudah mampu dijalankan dengan baik. Pada generasi awal, sering kali terjadi konflik internal. Pada generasi sekarang, konflik internal memang jarang terjadi. Namun, pengembangan diri individual secara merata dirasa kurang. Adanya proses formal memang penting dihadiri untuk pemerataan pengembangan. Akan tetapi, proses yang tidak terlalu formal juga lebih efektif untuk perkaderan, demi menciptakan pembangunan prespektif yang terus-menerus. “Tradisi basecamp harus kembali hidup. Jadikan IMM rumah besar kita, dimana itu bagian dari diaspora” nasihat Immawan Zain Maulana, S.IP., M.A., Ph.D

Immawan Muh Akmal Ahsan, S.Pd menyampaikan, yang perlu dilakukan oleh IMM sekarang adalah merancang bangun agar tumpukan kader yang ada menjadi gelombang besar, mempunyai langkah strategis untuk maju di pentas nasional, dan usaha pengembangan jaringan yang dilakukan harus selaras dengan nilai luhur dalam diri. “Gerakan yang kita bangun harus lebih adaptif untuk menjawab tantangan-tantangan zaman.” pesan  Immawan M. Fajrus Shodiq, S.IP

Maka alangkah baiknya kita bertransformasi dari zaman konflik ke era kolaborasi. Saling mendukung antar semua bidang. Kini kita sudah memiliki fasilitas yang cakap. “Kultur konflik yang dahulu ada, bukan untuk menyurutkan kita, tetapi menjadikan kuat ketika berada di IMM. IMM tidak boleh terbelenggu oleh romantisme sejarah dan trauma. Tapi untuk dijadikan pembelajaran bagi kader IMM.” Tutur Immawati Masita pada closing statement Puncak Refleksi Milad IMM tersebut.

Momentum kali ini dimaknai untuk mempersatukan kawan-kawan IMM kembali, dengan tetap mengingat dan menerapkan tema yang diangkat secara general yakni ‘Menguatkan Kemandirian’. Agar kawan-kawan lebih mengukuhkan jiwa keistiqomahannya dalam menjalankan perannya yang mengimplementasikan apa yang sudah didapat kepada agama, bangsa, dan negara. Billahi fii sabiilil haaq, fastabiqul khairaat.

jurnalis: Sofia Bunga N

Editor: Rofiq Firdaus

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

Ruang Sasta: “Terjadi Lalu Syukuri”

Terjadi lalu Syukuri Halo, aku Shanza. Aku masih duduk di tahta paling junior di kampus …

Leave a Reply

Your email address will not be published.