Urgensi Gerakan Revolusi Mahasiswa Generasi Z di Tengah Kemelaratan Bangsa akan Nilai Pancasila

Bangun Mahasiswa! Begitulah seharusnya seruan yang benar untuk mahasiswa saat ini karena sejatinya pergerakan mahasiswa tidak pernah mati. Hanya saja ada yang sedang tertidur pulas entah karena kelelahan melawan ketidakadilan, dinina bobokan oleh zaman yang terlihat nyaman atau memang sejak awal menjadi garda terdepan kaum rebahan. Ada pula yang terbangun namun dia disibukan oleh segala tuntutan perkuliahan dengan berdalih demi cita-cita di masa depan. Ada pula yang pura-pura tidur karena pacarnya cemburu lantaran dirinya lebih cinta pada ibu pertiwi. Dan ada juga yang sudah terbangun meskipun kesiangan dan kemudian dia kebingungan. Itulah serangkaian problematika rumit yang kita alami dan justru kita nikmati saat ini. Maka dari itu, penulis ingin membawa anda untuk merefleksikan keberisikan  yang belakangan ini sedang terjadi di dapur negara dengan keautentikan pergerakan mahasiswa memasuki Generasi Z. Tulisan ini tidak akan menjelaskan secara detail mengenai peristiwa kemelaratan kondisi sosial politik yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Namun penulis hanya ingin sedikit memberikan sudut pandangnya sebagai mahasiswa.

Mahasiswa adalah sekumpulan manusia yang sedang mempelajari suatu bidang studi di perguruan tinggi. Pernyataan itu dilontarkan oleh seseorang yang besok akan segera menemui dokter spesialis mata karena matanya tidak mampu untuk melihat sesuatu lebih jauh lagi. Karena pada hakekatnya mahasiswa adalah seseorang yang memiliki banyak sekali tuntutan yang dapat dilihat dari lencana-lencana yang telah terpasang permanen di baju besi perangnya. Yaitu lencana agent of change, social control dan iron stock. Disamping gelar-gelar itu sang intelektual negara (mahasiswa) juga dituntut untuk ahli di bidang yang ia tekuni. Namun segala tuntutan itu sebenarnya bukanlah beban ataupun kewajiban yang harus ditanggung mahasiswa, melainkan itu adalah sebuah kemegahan aset bagi mahasiswa sekaligus mukjizat yang tidak dimiliki oleh kaum lain. Tapi sayangnya mahasiswa kurang persiapan dan terlambat menyadari akan adanya mukjizat yang dimilikinya. Sebelum ia mengenal dirinya yang baru, secara umum niat awal seseorang masuk medan perang perguruan tinggi adalah dengan membawa prinsip rumahan. Yakni berkuliah untuk memiliki keahlian kemudian bekerja dan mendapatkan uang. Tidak salah, namun orientasi profit yang dibawanya dari rumah itu menutupi sisi kepeduliannya sebagai manusia yang tidak tinggal di hutan. Ukuran output pendidikan yang hanya dinilai dari bagaimana kemudian di masa depan ia hidup bahagia lantaran dirinya kaya raya merupakan pola pikir sempit dari kesempurnaan akal manusia dan kebutaan yang menyebabkan dirinya tidak bisa melihat dunia yang lebih luas dari itu. Pola pikir tersebut tidak mencerminkan Generasi Z yang kaya akan informasi dan segala instansitasnya. Atau justru itu mendefinisikan Generasi Z sebagai generasi yang gagal memanfaatkan perkembangan teknologi. Namun terlepas dari itu semua, layaknya seorang nabi yang dianugerahi banyak mukjizat, mahasiswa juga banyak diberikan ujian-ujian dari mulai penugasan kuliah yang memenjarakannya dari kebebasan berpikir, formalisasi dari korsa-korsa yang dipakainya untuk bekerja di organisasi, sampai ikhtiarnya untuk menjadi yang terdepan secara eksistensi yang jika ia terlena maka dapat membuatnya lupa substansi, sehingga akan merusak nalar dari peran besarnya sebagai mahasiswa.

Penghuni istana dan penduduk kursi-kursi negara yang tidak sepenuh hati dalam mewujudkan harapan rakyatnya menghasilkan arogansi dari praktek – praktek penyelenggaraan negara yang melucuti nilai dasar negara. Apabila alasannya adalah kepentingan golongan atas orientasi kekayaan, maka tidak ada bedanya pola pikir sang penduduk kursi dengan kesalahan pola pikir mahasiswa baru yang sebelumnya sudah dijelaskan. Pada intinya penyelenggaraan negara hari ini gagal mengimplementasikan Bhineka Tunggal Ika kedalam sistem pemerintahannya. Memang menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk mempersatukan pola pikir manusia yang berasal dari berbagai macam budaya, suku, ras dan agama. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok pemimpin yang dengan sepenuh hati berpihak pada kebenaran dan tidak satupun kepentingan yang ada di dalam dirinya selain kepentingan rakyatnya. Tidak menutup kemungkinan jika kesehatan sosial masyarakat semakin terganggu dengan sistem demokrasi bercampur tangan oligarki terselubung itu, akan muncul fenomena oklokrasi. Itulah yang paling ditakutkan dimana kelompok rakyat yang merasa tertindas akan membentuk kelompok mafia yang secara inkonstitusional mengendalikan negara. Maka mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam merawat demokrasi dengan cara meningkatkan ketajaman kritik terhadap anomali penyelenggaraan negara.

Berkaca pada sejarah pergerakan politik mahasiswa dunia yang terjadi di tahun 60an sampai tahun 70an di Amerika, Perancis dan Jepang, akademisi luar negeri sepakat bahwasannya akar gerakan mahasiswa secara autentik berasal dari situasi ekonomi, ketidakadilan sosial dan politik yang tidak demokratis. Selain itu akademisi juga sepakat bahwa penurunan kadar aktivisme mahasiswa luar negeri pada tahun 70an disebabkan karena kemajuan industri yang meningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa di negara berkembang  dengan penyakit sosial politik yang ada seharusnya tidak akan terjadi penurunan terhadap aktivisme mahasiswa. Sama halnya dengan tonggak sejarah nasional yang mencatat pergerakan mahasiswa angkatan 1908 (Boedi Utomo) dan 1928 (PPPI) yang pada intinya kontra terhadap politik etis Belanda. Lebih dekat lagi dengan peristiwa Orde Baru 1998, dimana mahasiswa menjadi tentara intelektual bertumpah darah yang bertempur melawan tirani dan berhasil memenangkan piala reformasi. Namun ternyata 2019 dengan semua peristiwa pertumpahan darah mahasiswa telah menjawab bahwasannya piala reformasi bukanlah pencapaian final dari terciptanya keadilan yang dicita-citakan bangsa. Artinya mahasiswa Indonesia masih perlu melanjutkan perjuangan di era reformasi bernuansa otokrasi modern. Namun bagaimana seharusnya pola pikir yang digunakan mahasiswa generasi sekarang dalam pergerakannya?

Pertumpahan darah yang terjadi pada mahasiswa beberapa waktu yang lalu sangat disayangkan. Karena tidak menghasilkan tuntutan yang terpenuhi, namun hanya menghasilkan orang-orang terkenal di media. Keberadaan organisasi pergerakan seperti IMM dan yang lainnya perlu melakukan gerakan “Revolusi Mahasiswa” untuk mengasah ketajaman pergerakannya di negara ini. Penulis menafsirkan gerakan Revolusi Mahasiswa tersebut sebagai berikut :

  1. Pematangan Ideologi Kemahasiswaan

Hari ini kampus-kampus sedang dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa generasi peralihan milenial (Generasi Z, Kelahiran 1995 – 2010). Kelahiran manusia tersebut di barengi dengan era berkembangnya teknologi yang membawa paradigma serba instan. Berguru pada Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Perlu ditekankan bahwa mahasiswa juga merupakan seorang pemuda dan bagian dari rakyat yang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih pintar dari golongan lain. Maka tidak ada alasan untuk membedakan peran antara kehausan ilmu perkuliahan dengan menyuarakan keadilan. Karena si penuntut ilmu dan si demonstran adalah manusia yang sama. Menurut penulis, ideologi adalah suatu gagasan yang tertanam secara kuat dalam pendirian manusia dan tak akan tumbang oleh perkembangan zaman. Maka perlu ditemukan suatu keseragaman pola pikir ideal yang tertanam pada diri mahasiswa yang tidak mengenal kadaluarsa. Pola pikir tersebut akan menciptakan spirit dan ketulusan perjuangan. Sebelum kemerdekaan, kobaran semangat perjuangan menyala karena keinginan merdeka, sedangkan 1998 karena sistem yang meresahkan. Namun hari ini dengan berkedok kemerdekaan secara konstitusional yang terjadi adalah penurunan kadar aktivisme pada mahasiswa disebabkan oleh kemajuan teknologi dan informasi yang hanya menayangkan konten hiburan, maka seharusnya sang agen perubahan mampu mengubah paradigma tersebut menjadi gerakan yang moderat. Mentahnya pola pikir, pemahaman dan ketulusan dari mahasiswa yang turun aksi merupakan faktor fundamental dari kegagalan tuntutan kemarin. Maka sejatinya perlu digoreng kembali pola pikir mahasiswa saat ini. Penulis setuju dengan pendapat Rocky Gerung bahwa ijazah itu adalah tanda orang pernah bersekolah, bukan tanda orang pernah berpikir. Maka penulis juga sependapat dengan Dzawin Nur bahwa “Aku bersekolah di UMY, tetapi aku berpikir di IMM..”

 

  1. Eskalasi Pergerakan

Hari ini penulis setuju ketika dikatakan masa aksi masih menjadi senjata relevan untuk melawan anomali kebijakan pemerintah. Namun hal itu bukan menjadi satu-satunya ujung tombak perlawanan. Melihat dari kegagalan substansi aksi kemarin yang hanya menghasilkan artis-artis baru, penulis berpendapat bahwa pola kajian, pernyataan sikap kemudian diaktualisasikan dengan aksi turun ke jalan sudah mulai tumpul ketajamannya. Maka dari itu sangat perlu dilakukan eskalasi ataupun perluasan dari pergerakan mahasiswa untuk mempertajam aksi. Eskalasi pergerakan yang dipetakan oleh penulis mencakup hal-hal seperti (1)Sektoralisasi, (2)Integrasi dan (3)Kontinuitas. Sektoralisasi yang dimaksud penulis adalah bagaiamana pergerakan hari ini harus meluas ke segala sektor yang dapat menjadi media perlawanan mahasiswa. Dianalogikan mahasiswa ini sebagai pesawat tempur yang mampu meluncurkan roketnya dari arah mana saja dan terarah ke objek manapun. Mahasiswa Generasi Z harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada untuk memperluas media perlawanan dalam bentuk apapun. Penulis tidak menyalahkan Gen Z yang berekspresi melalui story di sosial medianya ketika melakukan demonstrasi. Itu justru salah satu pembukaan ruang untuk eskalasi pergerakan mahasiswa jika dipertajam lagi. Jika Gen Z merupakan penguasa sosial media maka seharusnya ia dapat memberikan perlawanan dari sektor keunggulannya tersebut. Kemudian Integrasi adalah kata kunci dalam menciptakan suatu keresahan yang sama dari berbagai golongan. Integrasi ini juga merupakan kunci kesinambungan jika terjadi sektoralisasi pergerakan. Dan yang terakhir adalah Kontinuitas atau berkelanjutan. Konsistensi pergerakan yang berkelanjutan merupakan senjata tajam yang dapat menusuk ketidakadilan secara perlahan namun pasti. Seperti kata kawan penulis bahwa air saja dapat melubangi batu jika setiap hari ia meneteskan dirinya diatas batu tersebut. Maka pergerakan mahasiswa jangan berhenti sampai demonstransi yang hanya menampilkan pentas seni bagi para orator. Tetapi perlu dilakukan serangan susulan yang tepat sasaran dan berkelanjutan sampai tercapainya cita-cita bersama.

  1. Kecerdasan logikal dan Kecerdasan emosional

Sudah menjadi kodrat bagi mahasiswa bahwa kecerdasan logikal adalah salah satu asetnya. Meluasnya komunikasi dan terbukanya informasi seharusnya menjadi improvisasi tingkat literasi yang ada pada diri mahasiswa Generasi Z. Seyogyanya mahasiswa dapat menggunakan nalar berpikirnya untuk menjadi problem solver dari situasi yang ada. Kemudian hal sepele yang sebetulnya sangat penting dikuasia mahasiswa dalam bergerak adalah kecerdasan emosional. Penulis berpendapat bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan tidak hanya terus dilakukan secara lantang, tidak harus bertengkar dengan pemerintah dan tidak melulu harus bersikap penuh amarah dengan orasi. Karena sejatinya tujuan utama adalah kesejahteraan hidup masyarakat yang dicita-citakan bersama. Perlu dilakukan pendekatan emosional antara kita dan penyelenggara negara. Namun untuk menghindari penumpulan pergerakan, pendekatan kelantangan juga harus tetap dijalankan.

Kiranya demikianlah pandangan dan opini penulis mengenai pergerakan mahasiswa sekarang dalam menghadapi isu kemelaratan dasar negara. Tulisan ini sepenuhnya hanya berasal dari kedangkalan pemikiran penulis. Maka penulis sangat membuka pintu untuk dimasuki oleh kritikan dan antitesis dari anda. Mohon maaf jika ada penulisan yang menyinggung hati anda, “Aku berpikir maka aku ada, Aku bersuara maka aku hidup”

Billahi Fi Sabililhaq Fastabiqul Khairat.

  • Immawan Muhammad Fatwa

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

Dua Presiden Indonesia Yang Terlupakan

Masyarakat Indonesia umumnya hanya mengenal 5 sebagai Presiden Republik Indonesia. Padahal, dalam sejarah Indonesia mencatat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *