Sebuah Gerakan Dasar Mengakar

Berita hangat terbaru dalam berbagai media konvensional menggemparkan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Tidak lain tidak bukan mengenai paham radikalisme yang katanya dapat memecah belah satu kesatuan negara republik ini. Dalam berita tersebut berbicara bahwa paham radikal ini telah sampai pada pintu-pintu kelas perguruan tinggi ternama, khutbah-khutbah dimasjid pun dianggap sebagai media utama dalam penyampaian paham radikal. Sehingga lembaga eksekutif pun disibukkan dengan berbagai wacana maupun aksi untuk menuntaskan permasalahan paham radikal yang mengakar. Sehingga paradigma yang sampai pada otak individu adalah paham radikal sangat berbahaya bagi kedaulatan negara. Bahkan pemimpin negara sempat menginisiasi perubahan kata radikalisme menjadi manipulator agama dengan maksud memperhalus akan tetapi justru menimbulkan perdebatan berkepanjangan.

Terlepas dari berita heboh tersebut, lebih enak apabila kita mengetahui bagaimana radikalisme muncul. Kata radikal muncul pertama kalo saat revolusi perancis tahun 1787-1789. Kemudian di negara britania raya, pada tahun 1797, Charles James Fox menteruman sebuah gerakan “Reformasi Radikal” dalam sistem pemerintahan Inggris.  Dan apabila dikaitkan hingga saat ini, kata radikal tidak hanya disandingkan dengan sebuah gerakan saja, bahkan dalam praktik agama, kata radikal dapat dipautkan. Saat ini, kata radikalisme sedang kritis dan mengalami deformasi yang luar biasa. Bagaimana tidak, makna dari tekstual menjadi kontekstual bergeser jauh. Dari yang seharusnya positif dan terkesan progresif berubah menjadi negatif dan reaksioner.

Pada dasarnya, kata radikal menjerumus pada hal-hal yang besifat mendasar, pokok dan esensial. Selaras dari asal kata radikal dalam bahasa latin yakni ‘radix’ yang berarti akar. Sehingga kata radikal itu sendiri mempunyai konatasi yang cukup luas. Dapat disematkan dalam berbagai ranah gerakan politik, ilmu sosial dan sebagainya. Sehingga sebenarnya tidak selalu gerakan yang disematkan kata radikal terkesan atau dinilai negatif. Bagi khalayak umum, dengan maraknya kabar konotasi negatif dari radikalisme akan mempengaruhi pola pikir seseorang. Dan yang perlu digarisbawahi dan diboldkan adalah mempengaruhi pemikiran mahasiswa dan berdampak pada matinya sebuah gerakan mahasiswa.

Bagaimana tidak, sebuah gerakan mahasiswa sudah sejatinya mengimplementasikan gerakan radikal. Baik itu dilihat dari kacamata tri darma universitas dan atau sebuah organisasi terkhusus pergerakan. Organisasi pergerakan dengan kompenen tujuan, metodelogi, kerangka arah gerak dan tetek bengek yang dirancang sedemikian rupa juga memerlukan sebuah pemikiran yang radikal. Dalam sudut pandang islam saja misalnya, pada zaman rasulullah untuk mencapai tujuan dakwah dan mewacanakan islam sebagai rahmatal lil ‘alamin saja diperlukan sebuah gerakan yang radikal. Singkatnya, seseorang yang bertindak radikal tidak selalu dikaitkan dengan pemikiran radikal. Dan pemikiran radikal tidak selalu berkelindan dengan tindakan radikal. Serta pada pokoknya radikalisme bukan semestinya berbau tindakan kekerasan.

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

RESMI! BANK SYARIAH INDONESIA. BAGAIMANA PENDAPAT MASYARAKAT FEB?

DEKOMBAT.COM – Senin (1/2) Bank Syariah Indonesia resmi disahkan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo. Bank …

One comment

  1. Min, mohon koreksi sebelum memakai kata anarkis bisa di cari tau dulu apakah itu kekerasan atau bukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *