BUDI BERMAIN DENGAN KESEJATIAN

Pohon akasia kini telah rapuh, tumbang dan terbakar
Rantai tak lagi kuat sudah putus atas nama golongan
Kapas kapas sudah menjadi kapuk tak lagi menjadi milik bersama
Padi padi sudah hilang termakan aspal dan tembok pembangunan
Pancasila hanya rapalan rumus buntut belaka
Budi termenung sambil menulis itu semua
Budi kecil menginjak usia remaja, sudah pantas disebut pemuda
Langkah gontai penuh tanda tanya,katanya pemuda itu panggung sejarah
Tapi, 10 pemuda hari ini tidak ada artinya……..
Menjadi kontrol sosial kok malah blingsatan, lupa diri ketika diberi jabatan
Padahal dulunya dia turun ke jalan, mulutnya berbusa menuntut keadilan, dasar parlemen jalanan.


Menjadi agen perubahan malah sok tahu, pintar saja tidak bodoh pun tak mampu
Sudah bosan dia melamun, lalu duduk budi di tengah hiruk piruk keramaian
Ia menyaksikan banyak pemuda sedang dijajah oleh kesibukan pribadinya
Apatis, Agnostik, sampai Atheis dengan keadaan sekitar, bahkan tuhan pun luput ketika adzan
berkumandang
Budi semakin bingung kepalanya meledak tanda tanya
Persetan……..!!!!
Pemuda, mereka melacur dalam keheningan gemerlap kota
Ternina bobokan oleh rasa praktis dan kemalasan
Durjana apa yang merasuki pikiran mereka
Lantas Budi bertanya??
Apa tugas ku sebagai pemuda, apakah itu hanya sekedar kematangan usia?Dia bingung tak ada jawaban pasti yang dia temui
Budi masih berjalan gontai, berpapasan orang orang tak dikenal
Cafe ramai oleh para mengumpat , tertawa bersama biduan
Gusar, panas, terbakar amarah
Andai soekarno bangkit dari peristirahatannya, menangis dia melihat kelakuan para pemuda
Teringat kembali sumpah pemuda
Berbahasa satu bahasa alai dan gaul
Berbangsa satu bangsa hipokrit nan adil dan luhur
Bertumpah darah satu darah para leluhur…


Melintas Budi di depan pusat perbelanjaan
Aroma AC kapitalis tercium sangat kuat
Dari jauh terlihat wanita, nampaknya dia tengah kebingunan
Di dekati olehnya dia coba melihat, rupanya label harga hermes tak bersahabat
Tertawa dia dalam hati, BEGO… Tolol…. HAHAHA
Wanita jika hati kecilmu berbicara tak mampu, jangan kau paksakan, itu artinya kau terlalu murahan,
Ups.. isi dompetmu yang murahan
Pemudi mulailah mencintai produk dalam negeri
YA sudah umpat Budi hari esok biarlah hari esok, ngapain dipikirkan sekarang
Aku bukan seorang Filsuf apalagi ahli pemerintahan
Biarkan pencarian berbuntut pencarian
Aku terlambat mencari jati diri
Budi pun tidur dalam palung mimpi indahnya…..

Oleh: Immawan Rasyid

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

Pisang dan Momo

Editor : Tim Redaksi Dekombat Sebuah kebun binatang di suatu kota sedang kedatangan penghuni baru. …

Leave a Reply

Your email address will not be published.