Kajian Historis Epistemologi Karl Marx

Sejak Revolusi Kognitif terjadi pada kehidupan Homo Sapiens, dimana manusia purba berkomunikasi secara sederhana kepada sesama manusia yang lain, sejak saat itulah sistem kapitalisme mulai terbangun secara perlahan dan terakumulasi sampai Revolusi Industri 4.0 (Smart Society 5.0 di sebagian negara). Homo Sapiens memulai kariernya untuk bertahan sampai sekarang dengan cara berkomunikasi, bersosialisasi, hidup dan bergerak secara kelompok yang disatukan oleh sebuah mitos yang mereka ciptakan sendiri agar kelompok tersebut hidup dengan budaya yang sama. Di saat itu pula egosentris setiap individu mulai tercipta. Homo sapiens mulai berpolitik dalam kelompok kecilnya, karena ketika revolusi kognitif terjadi, bukan lagi sapiems terkuat yang menjadi seorang alpha, melainkan manusia yang paling dihormati, disegani, dan dipercaya oleh sapiens yang lainlah yang menjadi penimpinnya. Dorongan untuk berkuasa dan menguasai mulai muncul di fase ini, sebab seorang pemimpin pada kelompok kecil ini akan mendapatkan semua keinginan yang diimpikannya (makanan, wanita, otoritas, pengambil keputusan).

Lalu pada suatu saat, seorang sapiens tidak sengaja membakar sebuah hutan atas kelalaiannya. Namun siapa sangka kelalaiannya tersebut ternyata menjadi sebuah kunci peradaban manusia menembus batasnya pada saat itu. Setelah bara api membakar habis hutan belantara, manusia menemukan cara mencari makanan yang sangat efektif dan efisien. Berbagai macam hewan terjebak dalam kebakaran hutan tersebut sehingga memudahkan manusia untuk mencari sumber protein yang sudah masak. Pengeksploitasian terhadap alam terjadi pada fase ini. Semakin besar kelompok manusia, maka semakin banyak pula kebutuhan pangannya, dan semakin banyak pula hutan yang terus dibakar.

Perjalanan historis untuk mencapai kapitalisme modern belum usai, sayang. Tanah bekas hutan yang terbakar sangatlah subur, kaya akan zat hara sehingga apapun biji bijian yang ditanam dalam tanah tersebut tumbuh dengan subur. Terjadilah Revolusi Pertanian yang pertama disini. Manusia mulai mendomestikasi tanaman (atau manusia yang didomestikasi oleh tanaman, aku tidak tahu, sayang). Kehidupan berburu dan mengumpul lambat laun berubah ke cocok tanam. Biji yang tertanam perlu dirawat, diberi nutrisi dan diberi perhatian agar tumbuh dengan baik, karenanya manusia terpaksa (atau dipaksa oleh tanaman) untuk terus memerhatikan lahannya. Lambat laun manusia mulai hidup untuk menetap, menjaga dan menuhankan tanamannya untuk nantinya dipanen dan dimakan oleh manusia sendiri. Egosentris dan sikap individualistis manusia lagi-lagi menembus batas yang baru. Semakin luas lahannya, maka semakin banyak sumber daya yang dia kuasai. Konflik mulai terjadi antar manusia (atau keluarga, atau kelompok kecil dalam kelompok besar) yang mengklaim luas lahan tanah yang dimiliki. Keinginan untuk menguasai lahan yang lebih luas (mengeksploitasi) tumbuh dalam sifat manusia. Lalu apa yang terjadi pada manusia yang malang, sayang? Yang tidak memiliki klaim sepetak tanah dalam sebuah perkumpulan manusia (kelompok) dan tidak mampu pula untuk berburu karena tidak memiliki keahliannya. Bagaimana cara orang tersebut tetap hidup ketika dia memisahkan diri dari kelompoknya untuk mencari kelompok yang lain namun tidak pula diterima oleh kelompok barunya? Tidak mungkin juga dia dapat bertahan hidup jika sendirian. Iya, dia akan menghamba kepada orang yang memiliki sumber daya yang melimpah untuk menyambung hidup. Hidupnya akan bergantung terus menerus kepada pemilik lahan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Secara tidak sadar pembentukan kelas sudah terjadi sejak zaman baheula, yang memiliki lahan (alat) produksi dan tidak. Mulai dari sini, terbentuk pula sifat manusia untuk mengkapitalisasi tenaga kerja yang ada, karena mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menyambung hidup.

Lambat laun perbedaan kelas mulai terbentuk secara kompleks. Dan pada akhirnya perbedaan kelas menimbulkan kesenjangan sosial dalam kehidupan manusia modern.

Berangkat dari keresahannya terhadap kesenjangan sosial yang terjadi, Ideologi Materialisme Dialektika Historis Karl Marx menjadi landasan dasar pergerakan dalam membela kaum buruh dan memperjuangkan masyarakat tanpa kelas selama bertahun tahun. Ideologi Marx menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar negara di dunia. Sebab dengan ideologinya lah kaum kaum buruh (proletar) mulai tersadar akan penindasan yang dilakukan oleh sistem kapitalisme.

Materialisme Dialektika Historis-nya Marx biasa digunakan sebagai pisau analisis dalam mengupas berbagai permasalahan sosial yang terjadi. Dengan menghilangkan hal hal yang berbau metafisik dan dogmatis, MDH mengupas sebuah permasalahan sosial dengan melihat kejadian-kejadian atau kondisi yang runtut dan bisa diuraikan secara ilmiah (Fisika, kausalitas) hingga permasalahan sosial itu muncul tanpa melupakan aspek historis atau pun aspek dialektika di dalamnya

(Materialisme dialektika atau materialisme historis)

Catatan :

Karl Marx mengambil teori Materialisme dari Feurbach dan Dialektika dari Hegel (tesis, antitesis, sintesis) dengan menhilangkan aspek imateril dari keduanya.

Author: Immawan Richie Rafiienza

About Tim Redaksi Dekombat

Website ini dikelola oleh Tim Redaksi Dekombat IMM FEB UMY

Check Also

RESMI! BANK SYARIAH INDONESIA. BAGAIMANA PENDAPAT MASYARAKAT FEB?

DEKOMBAT.COM – Senin (1/2) Bank Syariah Indonesia resmi disahkan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo. Bank …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *